Koridor, Coworking Space Surabaya
April 01, 2018
Surabaya kembali memberikan kejutan, serius! Selama
penulis merantau dikota ini tak hentinya mendapatkan kejutan dari kota
pahlawan, khusunya untuk anak muda kreatif. Jumat, 10 November 2017 lalu kembali menjadi
hari bersejarah untuk Surabaya dengan diresmikannya Koridor, Coworking Space
Surabaya.
Sebagai bagian dari visi Wali Kota Surabaya, Tri
Rismaharini, untuk menjadikan Surabaya sebagai sentra kreatif dan teknologi di
tingkat global, KORIDOR merupakan langkah awal untuk membangun dan memperkuat
pondasi ekonomi kreatif di tingkat lokal.
KORIDOR adalah komitmen Pemerintah Kota
Surabaya untuk menciptakan ekosistem yang memberdayakan para kreator, inovator,
dan entrepreneur lokal untuk menciptakan inovasi dan mampu bersaing di tingkat
global. By the way tempat ini GRATIS untuk para pemuda yang
kreatif dan inovatif serta yang ingin berkolaborasi untuk membuat Surabaya
menjadi lebih baik lagi.
Pengunjung cukup menukarkan kartu identitas dengan nametag
Koridor dibagian meja registrasi diawal masuk untuk dapat menikmati tempat ini.
Berlokasi di lantai 3 Gedung Siola, Jalan Tunjungan Surabaya, Koridor terbagi
menjadi 7 ruangan yakni Paduraksa, Ruang Baur, Sesrawungan, Sinausini, Obah
Mamah, Pusaran Dan Ranjana.
Tak ada alasan lagi untuk bermalas-malasan, tak ada
alasan untuk tak ada tempat kumpul, kota ini telah memiliki banyak fasilitas
yang dapat digunakan untuk menunjang para pemuda kreatif. Disini semua dapat
dilakukan dengan fasilitas akses gedung dan internet 24 jam, setiap
ruangan dilengkapi dengan backdrop, sound system, screen, dan projector
atau yang lainnya.
Selain itu koridor juga memiliki desain interior
yang bagus dan instagramable. Loe
mau foto dimanapun pasti akan terlihat bagus untuk di post disosial
media kita. Terima kasih ibu Tri Rismaharin telah mendukung masyarakatnya untuk
terus berkembang. Kini saatnya kami untuk berkarya #AyoGaweRek.
Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan
menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen
sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa
yang rela menderita demi pembelian cita-cita.







0 comments