Pertemuan, Pesinggahan dan Perpisahan

April 08, 2018


Jika lelah istirahat, bukan menyerah. Semenjak mengetahui kalimat tersebut, rasanya tak pernah hilang dalam ingatan. Oleh sebab itu, 30 Maret 2017 menjadi momen “istirahat sejenak” dari padatnya aktifitas yang dilakukan setiap harinya. Bisa dibilang, momen ini sangat mendadak, hanya bermodal ingin keluar bersama maka “alakadraba” terjadilah. Tak banyak memang yang terlibat, hanya 6 orang saja (Penulis, Hasan, Dini, Imam, Nuriva dan Faaza) maka perjalanan ini dimulai.

Berangkat malam hari, pada tanggal 29 Maret 2017, kita menuju kota tetangga dengan mengendarai mobil. Tak jauh, hanya kota tetangga yang terkenal dengan keindahan alam dan sejuknya lingkungan. Yup, kota Malang dan Batu menjadi destinasi tujuan perjalanan ini.

Menariknya, tak ada tujuan wisata yang pasti untuk dikunjungi, semua hanya berdasarkan arah angin mau membawa kita kemana. Pokok, jalan-jalan melihat hijaunya dedaunan dan menghirup segarnya udara yang alami. Karna membawa peralatan kamera yang cukup lengkap, maka tak ada salahnya kalau memulai perjalanan dengan tempat yang memiliki view instagramable. Tujuanpun ditetapkan di Paralayang, sebuah wisata di daerah kota Batu.
Surprise, dingin banget tuh tempat, ini kali pertama penulis berada dilokasi tersebut jam 02.00 WIB. By the way, perjalanan ini dilakukan 6 orang, dimana penulis belum akrab bener dengan semuanya hanya beberapa saja yang benar-benar akrab. Selepas sholat Subuh, mata tak boleh terpejam karna harus memotret sunrise adalah hal yang wajib dilakukan, tapi sayang kala itu langit sedang malu menunjukan indahnya.
Merasa gagal mendapatkan sunsire tak membuat perjalanan ini terhenti begitu saja, sunset akhirnya menjadi tujuan selanjutnya dan pantai menjadi lokasinya. Sebelum melanjutkan perjalanan ke pantai tak ada salahnya menyapa teman yang tinggal di kota Apel ini. Sebenarnya dia adalah temannya Faaza, so kita kembali berkenalan dengan orang yang baru, maaf baru kenal tapi kita sudah merepotkan. Waktu menunjukan semakin siang, berarti kita harus kembali melanjutkan perjalanan.
Sayang, baru setengah perjalanan menuju pantai, kita merasa ragu untuk bisa sampai tepat waktu. Gak baik berjalan diatas keraguan, akhirnya kita memutar arah dan mencari kuliner khas daerah sini. Rasanya semakin dingin aja udara kala itu, ditambah hujan yang cukup deras menemani perjalanan ini.

Bakso Pak Gun menjadi penghanghat kami, sekaligus destinasi penutup perjalanan singkat ini. Iyah, perjalanan ini sangat singkat, tapi sekali lagi ini sangat bermakna. Canda tawa sering terlontarkan bagai teman yang sudah lama kenal. Walaupun hanya bisa singgah sebentar namun banya juga hikmah yang didapat, namun selayaknya pertemuan pasti ada perpisahan. Coba tanyakan kembali, apa benar ini perpisahan? Memang raga kita berpisah, tapi semua kenangan yang tercipta tak akan mudah dilupakan. Semoga kita dapat kembali berjumpa, untuk melanjutkan ke perjalanan yang jauh lebih menyenangkan.







You Might Also Like

0 comments