Pengajar! Pahlawan Tanpa Tanda Jasa!

May 05, 2019



Sapa yang sangka jika akan menyelesaikan perkuliahan ditemani oleh 2 perempuan hebat, sapa sangka jika startup yang sedang dirintis bersama teman-teman akan menjadi topik yang mengantarkan saya mencapai gelar sarjana, sapa pula yang menyangka akan banyak pertemuan dan perpisahan selama proses pengerjaan. Tugas Akhir bukanlah sekedar matakuliah biasa, melainkan refleksi dari proses kita belajar selama kuliah.

Dari awal semester yang terdiri dari beberapa mata kuliah yang sepertinya tidak ada sangkut pautnya satu sama lain, hingga kita baru sadar disaat memasuki tingkat yang lebih tinggi bahwa semua matakuliah diperkuliahan adalah satu kesatuan yang dapat membentuk pola pikir kita dan dapat diimplementasikan dalam suatu matakuliah spesial yang memiliki jumlah SKS paling banyak bernama Tugas Akhir (TA).

Entahlah, apakah ucapan terima kasih cukup untuk 2 perempuan yang setia menemani selama proses pengerjaannya. Mulai dari penentuan topik yang akan diangkat, padahal saat itu hanya bermodalkan rasa PERCAYA DIRI dan “Keyakinan Bahwa Setiap Niat Baik Selalu Ada Jalan”. Tidak ingin TA hasilnya begitu-begitu saja, bahkan hanya asal selesai. Sayapun memberanikan diri mengangkat topik “baru” dikampus. Ditambah dengan keinginan untuk menyelesaikan perkuliahan dalam waktu 3,5 tahun.

SUMPAH! Waktu itu sangat percaya diri. Lika-liku pengerjaan yang ternyata tidak terpampang dalam schedule TA, membuat saya “terlena” selama pengerjaan. Cobaan selalu muncul silih berganti, revisi yang tak kunjung usai, ajakan nongkrong, kuliner, main game, hingga muncul kenyataan bahwa mimpi lulus 3,5 tahun, hanya akan menjadi mimpi semata.

Mengetahui kondisi tersebut tak membuat 2 perempuan ini putus asa terhadap kami. Beliau tetap memberikan semangat bahkan lebih membara. Padahal saya setelah dapat kabar itu malah “bandel” tidak mengerjakan TA selama beberapa bulan.

Support dari beliau membuat api semangat kami tidak boleh padam, bahkan hanya sekedar redum, sampai akhirnya kami sampai dititik dimana berhasil menyelesaikan kewajiban ini. Gagal lulus 3,5 tahun bukan berarti gagal dalam kehidupan. Lulus lebih cepat memang baik, tapi lulus diwaktu yang tepat rasanya jauh lebih baik lagi.

Dua perempuan yang selalu memberikan semangat ini tak lain adalah dosen pembimbing kami, Ibu Pantjawati Sudarmaningtyas, S.Kom., M.Eng. dan Ibu Sri Hariani Eko Wulandari, S.Kom., M.MT.. Beliau berdua tak kenal lelah dalam mengajari dan membimbing, banyak waktu beliau yang kami sita baik pagi, siang, sore dan malam. Bahkan waktu libur semesterpun kami masih membuat beliau sibuk dengan mengoreksi laporan yang tentunya tak setipis buku majalah.

Namun, beliau menerima semua itu dengan senang hati (semoga, hehe) dan sekali lagi, Entah! Apakah kata “Terima Kasih” cukup untuk mewakili perasaan dan semua jasanya. Terima kasih bu, kami bangga bersamamu!


You Might Also Like

0 comments