Bandung, Kota Yang Mengingatkan Tentang Cinta

December 30, 2017


Karna berharap kepada ketidakpastian bukanlah hal yang tepat, hingga terkadang kita lupa untuk mensyukuri hidup. Seperti bersyukur bahwa, masih ada hadirmu dalam hidupku walau hanya sekedar untuk menyapa dan jika beruntung terkadang kamu mengucapkan beberapa kata. Katamu tak selamanya jatuh itu sakit, lalu aku bertanya dan kamu menjawab yakni "jatuh cinta", akupun tak sanggup berkata.

Bandung, sebuah kota yang kembali mengingatkanku bagaimana rasa jatuh cinta, indahnya mencintai dan dicintai, hingga indahnya memiliki teman berbagi. Berbagi cerita dan canda tawa tanpa perlu rasa curiga untuk tidak percaya. Bukankah mencintai itu soal martabat dan menikah adalah soal nasib ? Maka jangan pernah kamu menyalahkan hadirnya cinta meskipun dalam kondisi seperti ini.

Ditemani secangkir kopi hangat, kamu bercerita, bahwa cinta itu indah dan sederhana. Sesederhana aku dan kamu, dimana dulu saat pertama bertemu, kita sama - sama tak memiliki rasa, bahkan tak pernah aku ingin memandangmu, sekalipun ku memandang mungkin hanya sebelah mata. Tapi entah mengapa, kala itu terasa berbeda, engkau bagaikan bidadari yang sangat mempesona, padahal aku tau, bahwa kamu jauh dari kata sempurna. 

Apakah cinta ini buta ? Tidak !!! tentu ini bukanlah cinta yang buta. Melainkan aku sadar, bahwa kamu memang tak sempurna, agar kita dapat bekerja sama untuk saling melengkapi, menghapus kata kamu dan aku, lalu mengubahnya menjadi kita, syukur jika akhirnya berujung ke KUA. Sudah cukup Sinta kita bermain cinta, aku ingin mencari cinta sejati dari wanita yang paling baik hati. Dan diantara berjuta wanita, kamulah yang aku percaya untuk dapat mengisi hari.

Aaaah, akhirnya aku sebut juga namamu "Sinta". Wanita yang menemaniku berkeliling kota asing tanpa arah yang jelas dengan bermodal intuisi dan ditemani dinginnya malam. Kala itu aku ingin menghangatkanmu dengan jaketku tapi sayang aku bukan lelaki yang berani. Bagaimana aku bisa berani Sinta, sedangkan saat itu tak sedetikpun lampu hijau muncul darimu untuk kehadiranku. Sikap dinginmu jauh lebih menyeramkan dan dingin dari udara malam kala itu, tapi tak mengapa Sinta, karena sikapmu itu, aku semakin terpesona denganmu.

Meskipun sampai saat ini aku belum tau rasamu padaku, Sinta. Tak sanggup rasanya tuk bertanya kepadamu, kekhawatiran hati akan kehilangan senyummu apalagi hadirmu menjadi alasan utama bagiku. Sudahlah Sinta, jangan memaksa, biarkan saat ini aku tak bersuara, karna aku yakin kelak akan tiba waktunya. Kamupun juga begitu kan Sinta ? Semalam angin telah membisikannya kepadaku, sekaligus membawa segelintir kenangan.

Semua yang terjadi di kota itu telah menjadi kenangan yang tak akan terlupakan, meskipun tak sesuai dengan angan - angan. Hingga akhirnya kita kembali ke kota asal, rasa inipun tak pernah berubah, justru semakin membara. Ku tak ingin berdusta Sinta, bahwa aku memang sedang jatuh cinta. Hingga pada tulisan ini tercipta rasaku belum berubah, semoga hingga saat kamu membaca tulisan ini rasa itu tak pernah berubah, bahwa aku mencintaimu.

~ Bandung, Dikala itu, dimana aku kembali jatuh cinta karena dan kepadamu :') Sinta.

You Might Also Like

0 comments