Krupuk Kenangan
March 16, 2018Banyak orang didunia ini berpendapat kalau wirausaha atau berbisnis itu susah sekali, penyebabnya takut gagal, kurang pengalaman, kurang nyakin, dan takut gagal. Tidak mau mencoba hal yang baru dan keluar dari zona aman itu mungkin menjadi alasan utama kenapa orang tidak mau berbisnis.
Tapi tidak sedikit juga yang berpendapat bahwa berbisnis itu mudah dan menyenangkan. Seperti yang dilakukan oleh para siswa kelas XII ini, mereka jurusan TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan) di SMK Negeri 1 Cerme Gresik.
Bagi mereka dunia teknologi udah menjadi hal biasa bahkan makanan sehari - hari, selain pelajaran komputer mereka juga mendapat pelajaran kewirausahaan. Tugas akhir pelajaran tersebut adalah para siswa harus membentuk suatu team untuk mampu berbisnis dan harus ada keuntungan yang didapat dari bisnis itu.
Sempat bingung bisnis apa yang mau dijalankan karena menurut mereka enggak mungkinkan mereka akan berjualan alat teknologi seperti komputer, laptop, flashdisk, dll. Bingung, bingung, dan bingung, "kalau bingung terus tugas ini tidak akan selesai" kata ketua team saya.
Akhirnya team saya mempunyai ide untuk membuat CD Interaktif (Aplikasi) seperti Bobi Bola tapi versi kita sendiri. Ide itu disetujui oleh semua anggota team dan kamipun langsung minta persetujuan ke guru pengajar alhamdulillah disetujui juga. Awal mau membuat memang mudah, konsep juga sudah dipersiapkan dengan sangat baik.
Tapi apa boleh buat kami kebingungan membuat aplikasi ini, untuk menarik penjual maka aplikasi harus didesain dengan sangat baik dan teliti sedangkan tak seorangpun di kelompok kami yang mampu melakukan hal itu apalagi dalam waktu yang singkat.
Bingung melanda team ini lagi tapi waktu pengumpulan tugas semakin dekat, beruntung ada ide dari seorang anggota "bagaimana kalau kita jualan kerupuk saja ?" pertama mendengar ucapan itu banyak yang kaget dan menolak. "ha, kerupuk ? kita anak TKJ bro masak ya jualan kerupuk ?" ucap anggota yang lain.
"Terus mau berbisnis apalagi kita ?" sahut sang pemberi ide. Hening dan diam respon dari semua anggota sampai ucapan ketua memecahkan suasana "kenapa kok kerupuk ?" tanya ketua. "Karena orang jawa banyak yang suka makan kerupuk, selain buat camilan bisa juga buat teman makan nasi" jawaban masuk akal dari sang pemberi ide.
Saat itu juga ketua langsung memutuskan untuk menetujuinya. "Oke mulai sekarang kita tidak akan membuat aplikasi lagi tapi kita akan menjual kerupuk, jangan lihat labanya dulu tapi niat kita yang harus dijaga agar selalu bersemangat" ketua sudah mengambil keputusan dan kamipun harus bisa menerima, toh itu satu - satunya ide yang kita punya.
Saat itu pembagian tugaspun sudah ditentukan dan dengan waktu yang singkat serta kerja keras dan semangat yang tinggi semua bahan untuk jualan kerupukpun siap. Pengolahan kerupuk dilakukan disalah satu rumah anggota yang dekat dengan sekolah alasannya biar membawa kesekolahnya tidak susah.
Plastik, lilin, kardus dan pastinya kerupukpun siap untuk dikemas dan dipasarkan. Harga satu bungkus kerupuk sangatlah murah yaitu Rp 1000, hari yang ditungupun tiba kamipun harus membawa barang jualan kami ke sekolah.
Dan inilah saat yang paling susah menurut team kami, yaitu promosi. Gengsi, grogi, perasaan takutpun menjadi satu saat itu tapi karena kekompakkan team kamipun berusaha untuk menjual kerupuk ini di wilayah sekolah.
Dengan harga yang murahpun belum mau ada yang beli, wiiih gila. Kita cari tau masalahnya apa dan kesimpulannya masalahnya ada pada diri kita, kita tidak mau mempromosikanna karena kita malu dan gengsi dengan adek kelas atau mungkin guru.
Mulai sekarang kita buat niat yang kokoh dan buang jauh - jauh rasa gengsi itu, kamipun keliling sekolah dan menawarkan kerupuk ini. Alhasil melebihi dari yang kita harapkan semua kerupuk habis bahkan ada yang mau pesan lagi lloohh.
Dan dengan habisnya barang jualan kami, penilaianpun dilakukan oleh guru pengajar dan alhamdulillah kami mendapat nilai yang memuaskan ditambah laba yang cukup lumayan. Walaupun sedikit, kami bersyukur dan atas kejadian ini.
Bingung melanda team ini lagi tapi waktu pengumpulan tugas semakin dekat, beruntung ada ide dari seorang anggota "bagaimana kalau kita jualan kerupuk saja ?" pertama mendengar ucapan itu banyak yang kaget dan menolak. "ha, kerupuk ? kita anak TKJ bro masak ya jualan kerupuk ?" ucap anggota yang lain.
"Terus mau berbisnis apalagi kita ?" sahut sang pemberi ide. Hening dan diam respon dari semua anggota sampai ucapan ketua memecahkan suasana "kenapa kok kerupuk ?" tanya ketua. "Karena orang jawa banyak yang suka makan kerupuk, selain buat camilan bisa juga buat teman makan nasi" jawaban masuk akal dari sang pemberi ide.
Saat itu juga ketua langsung memutuskan untuk menetujuinya. "Oke mulai sekarang kita tidak akan membuat aplikasi lagi tapi kita akan menjual kerupuk, jangan lihat labanya dulu tapi niat kita yang harus dijaga agar selalu bersemangat" ketua sudah mengambil keputusan dan kamipun harus bisa menerima, toh itu satu - satunya ide yang kita punya.
Saat itu pembagian tugaspun sudah ditentukan dan dengan waktu yang singkat serta kerja keras dan semangat yang tinggi semua bahan untuk jualan kerupukpun siap. Pengolahan kerupuk dilakukan disalah satu rumah anggota yang dekat dengan sekolah alasannya biar membawa kesekolahnya tidak susah.
Plastik, lilin, kardus dan pastinya kerupukpun siap untuk dikemas dan dipasarkan. Harga satu bungkus kerupuk sangatlah murah yaitu Rp 1000, hari yang ditungupun tiba kamipun harus membawa barang jualan kami ke sekolah.
Dan inilah saat yang paling susah menurut team kami, yaitu promosi. Gengsi, grogi, perasaan takutpun menjadi satu saat itu tapi karena kekompakkan team kamipun berusaha untuk menjual kerupuk ini di wilayah sekolah.
Dengan harga yang murahpun belum mau ada yang beli, wiiih gila. Kita cari tau masalahnya apa dan kesimpulannya masalahnya ada pada diri kita, kita tidak mau mempromosikanna karena kita malu dan gengsi dengan adek kelas atau mungkin guru.
Mulai sekarang kita buat niat yang kokoh dan buang jauh - jauh rasa gengsi itu, kamipun keliling sekolah dan menawarkan kerupuk ini. Alhasil melebihi dari yang kita harapkan semua kerupuk habis bahkan ada yang mau pesan lagi lloohh.
Dan dengan habisnya barang jualan kami, penilaianpun dilakukan oleh guru pengajar dan alhamdulillah kami mendapat nilai yang memuaskan ditambah laba yang cukup lumayan. Walaupun sedikit, kami bersyukur dan atas kejadian ini.
Kami tau bahwa berbisnis tidak semenakutkan yang orang bicarakan
melainkan sebaliknya, menyenangkan dan menguntungkan asalkan kita mau
berusaha dan berdo'a. Karena tidak ada kesuksessan tanpa
diiringi do'a dan janganlah takut untuk gagal, kegagalan itu wajar dan
belajarlah dari kegagalan itu lalu bangkitlah menjadi pribadi yang lebih
baik lagi.









0 comments