Semua Berawal Dari Tahun Lalu
December 27, 2018Semua berawal dari tahun lalu, tepatnya bulan Oktober 2018. Saat itu mimpi untuk bisa lulus 3,5 tahun masih sangat menggebu-gebu. Yups, lulus dengan predikat cumlaude atau pujian dalam waktu 3,5 tahun merupakan salah satu target di tahun 2018, sebelum akhirnya kandas di pertengahan jalan. Memaksa kami untuk meneruskan study genap delapan semester.
Hal itu bermula ketika saya sedang menginjak semester 7 dan bulan Oktober merupakan pertengahan semester yang seharusnya mahasiswa tingkat akhir tidak lagi repot oleh urusan sidang proposal melainkan sidang laporan. Karna sifat “selow” kala itu, membuat saya baru bisa mendaftarkan sidang di akhir bulan Oktober, padahal teman-teman yang sama-sama ingin lulus 3,5 sudah mengurus proposal semenjak liburan semester dan saat itu malah sudah banyak yang sidang.
Bermodal semangat san keyakinan bahwa gapapa ketinggalan start tapi harus finish duluan membuat semuanya terasa mampu untuk dilakukan. Awalnya masih sesuai rencana, dibulan November proposal dan segala macam revisinya telah selesai dikerjakan, tanpa perlu sidang ulang, tanpa revisi yang berminggu-minggu, justru semuanya berjalan sangat lancar. Kebiasaan lama kembali muncul, “selow” memang sifat yang membahayakan. Waktu itu mendekati akhir tahun, planning yang disiapkan bukan bagaimana cara laporan bisa kelar di pertengahan Januari, malah destinasi liburan akhir tahun.
Hmm, rasanya 2017 memang banyak sekali momen yang membuat diri ini untuk pergi keluar kota, entah itu urusan kuliah, bisnis atau liburan. Sayangnya, liburan akhir tahun mampu membuatku terlena. Puas liburan akhir tahun dengan alih-alih bahwa hidup harus balance antara belajar dan liburan, tapi membuat laporan skripsi tak tersentuh sama sekali. Akhirnya tahun 2018 telah datang dan semangat mengerjakanpun kembali hadir, melihat deadline yang dekat dan proses yang belum seberapa, waktu itu deadline beneran sepeti death(line) haha.
Sistem kebut semalam ala anak SMA atau SMP sudah sempat dicoba, hingga mengharuskan pulang tengah malam beberapa kali, bahkan menginap dirumah teman bukan lagi kebiasaan baru selama mengerjakan skripsi. Banyak sekali drama yang terjadi, hingga harus memutuskan untuk lebih melihat realita yang ada bahwa skripsi ini tak akan bisa selesai tepat waktu. Saat harapan mulai pupus, mendadak datang angin segar yang membawa kesejukkan, bahwa deadline diperpanjang sampai akhir Januari.
Seperti waktu sebelumnya semangat kembali muncul. Sedihnya semangat ini kenapa suka “galau”, kadang muncul dengan semangat yang tak terhingga, kadang hilang entah kemana. Sayangnya, waktu yang sudah disediakan untuk pengerjaan skripsi masih terasa kurang.
Ditambah mendengar semua dosen pembimbing dan pembahas untuk skripsi saya harus studi lanjut ke luar negeri, sehingga tak dapat ditemui secara langsung untuk beberapa minggu kedepan. Berita ini membuat hati makin yakin bahwa lulus 3,5 tahun hanyalah mimpi belaka. Sampai batas akhir benar-benar tidak ada dispensasi lagi, sayapun beneran gagal lulus 3,5 tahun. Kurang lebih 15 teman saya berhasil lulus 3,5 tahun, selamat untuk kalian.
Sedih rasanya, membuat saya merasa galau dan bertanya apa pesan yang tersirat dari semua ini. Tiba-tiba hati seperti tersadar bahwa untuk mengapai suatu hal butuh perjuangan dan doa. Entah disisi mana yang kurang, lembur, bahkan tidak tidur sudah pernah dilakukan, doa juga sudah dipanjatkan tapi hasil sudah tak dapat di ganggu gugat.
Satu hal yang pasti, hidup gak akan berjalan begitu saja tanpa memberikan pelajaran, dari kejadian ini juga saya belajar bahwa kita harus selalu menikmati proses yang ada, baik atau buruk harus kita lewati, sedih memang boleh, tapi menyerah tak boleh terlontarkan meskipun sekilas anggan. Sadar dengan kegagalan ini bukanlah akhir dunia, seluruh tubuh saya berkata bahwa perjalanan ini belum berakhir, perjuangan masih panjang!!!






0 comments