Why Doodle

December 27, 2018


Setelah keputusan gagal lulus 3,5 tahun dari kampus tercinta, ditambah kegalauan karna patah hati ketika mengejar cewek yang di idamkan ternyata belom bisa move on dan kebingungan harus melakukan apa waktu itu, membuat saya memutuskan untuk mencari pengalaman baru.

Sejak kecil senang sekali rasanya bertemu dengan orang baru, berbagi cerita atau sekedar menyapa. Belajar hal baru dari orang yang kompeten, terutama dalam dunia teknologi, sampai akhirnya diri ini baru sadar bahwa ada sisi lain yang belom terpenuhi. Berawal dari "nekat" ikut kegiatan anak-anak desain hingga mengikuti suatu event kece bernama Kumpul Kreavi di Surabaya.

Memang bukan pertama kalinya saya ikut acara seperti ini, tapi kala itu sepertinya adalah waktu yang tepat, sama seperti bertemu jodoh lalu hati merasa bahwa dia pas dihatiku, itulah yang kurasakan. Dulu saat SD gambar yang saya buat pernah terpilih menjadi salah satu yang terbaik tingkat lokal, saat SD kelas 6 hingga SMP orang tua selalu mengenalkan desain digital, sekaligus itu momen pertama untuk berinteraksi dengan komputer, hingga akhirnya waktu SMK harus berhenti membuat desain karena jurusan yang diambil lebih suka berusan dengan logic, code dan jaringan.

Sampai masa kegalauan ini hadir dan sayapun memutuskan untuk kembali memberanikan diri terjun ke dunia desain. Tak ada dasar sama sekali dalam bidang ini, semuanya full autodidak. Bermodal rasa ingin tau dan kemauan untuk mencari tahu, akhirnya keputusan jatuh kepada "doodle". 

Setelah mencoba sketch, illustrasi, desain grafis, dll. Rasanya doodle adalah jawaban yang paling tepat saat itu. Doodle dapat mengekspresikan rasa yang sedang dialami. Tak ada aturan pasti, bentuk yang beraneka ragam namun tetap memiliki arti dan bebas memilih warna untuk berekpresi, membuatku jatuh hati padanya.

Berawal dari ketidakpedean membuat doodle, sampai setiap malam membuat gambar yang gak jelas hingga mendapat kritik dari penghuni rumah. Ternyata semuanya membuahkan hasil. Perlahan memberanikan diri untuk upload di sosial media, aliih-alih mendapat cai maki malah menerima banyak like serta masukkan dari teman-teman, bakhan bisa mendapatkan teman baru.

Sungguh senangnya dapat mengalihkan kegalauan dan kegelisahan menjadi hal yang positif melalui karya yang menyenangkan diri sendiri dan hati banyak orang. Hingga suatu hari ada yang bertanya "Dit, doodlenya bagus dan lucu, gimana sih cara buatnya?"

Karna selama ini gak ada cara khusus untuk membuat doodle, maka yang bisa aku katakan hanyalah "karya terbaik hanya dapat dibuat ketika sedang patah hati atau jatuh cinta."

Terdengar baper emang, namun nyatanya hampir setiap karya yang saya buat selalu melibatkan rasa, karna bagi saya, selain pesan yang ingin disampaikan dalam karya, terdapat juga rasa yang ingin disampaikan oleh pembuat ke penikmat karya.






You Might Also Like

0 comments