Tulusya Hati, Tulusnya Lisan

March 11, 2018


Ketika usia sobat sudah remaja apalagi sudah memiliki kartu tanda penduduk (KTP) penulis yakin bahwa sobat telah megenal asmara, tapi seberapa besar sobat pernah jatuh cinta dan seberapa besar sobat pernah memaafkan seseorang yang telah menghancurkan hati sobat menjadi berkeping - keping dan harus ikhlas merelakan kenangan yang pernah indah bersamanya lalu mempersiapkan hati yang baru untuk seseorang yang baru, menuju masa depan yang indah.

Kenapa penulis selalu memberikan ilustrasi terkait asmara untuk menyampaikan pesan, karena asmara adalah topik yang akan selalu hangat di telinga kita, bagaimanapun kondisinya dan dimanapun eranya atau jawaban singkatnya karna cinta topik yang menarik untuk dibaca hehe. Kurang lebih satu bulan yang lalu umat muslim telah merayakan lebaran sebagai tanda hari kemenangan. Saling bersalaman dan bermaaf - maafan hingga rela pulang ke kampung halaman yang nan jauh disana bukan menjadi masalah.

Karna lebaran tak indah rasanya tanpa mudik hehe, meskipun penulis tidak pernah merasakan mudik. Dekorasi, tulisan, spanduk hingga ucapan "Minal Aidzin Wal Faidzin" akan menjadi kalimat yang sering didengar saat itu. Namun seberapa besar kita memahami makna tersebut , serta seberapa dalam kita ikhlas mengucapkannya. Jangan - jangan hanya sekedar dimulut saja atau bahkan lebih parah hanya saat bertemu dengan orangnya saja.

Suatu kejadian yang membuat penulis geleng kepala dengan keadaan lingkungan sekitar adalah terkadang kita itu suka mengunjing seseorang, entah karna dia lebih baik dari kita tau hanya ingin berbagi keburukan orang lain karna kehabisan topik untuk mencairkan suasana. Seringnya, saat kita sedang asyik mengunjing tiba - tiba orang yang kita gunjing datang dan kita gak merasa malu atau bersalah, tapi malah dengan bangga dan senyuman lebar bilang "loh, masya allah neng baru juga dirasani kok sudah tiba -tiba muncul aja", lalu dijawab sama yang datang "ooalah, bicarakan apa toh, panjang umur berarti yah" dan semuanya sambil tersenyum bilang "iyah yah, panjang umur nih, mari - mari duduk".

Gila abis, gak merasa bersalah sama sekali malah bangga baik yang mengunjing atau yang diguncing malah saling mendoakan panjang umur -,- serius saat kejadian itu terjadi penulis bingung. Kejadian serupa sering kali terjadi entah kita sadari atau tidak dengan skenario yang sama dan pola yang mungkin sedikit bervariasi namun intinya sama, yakni mengunjing orang lain. Terlepas dari kebiasaan saling mengunjing terkadang kita tidak mau melakukan perubahan.

Sadar gak sih sudah berapa kali kita minta maaf ke orang yang sama dengan permasalahan yang sama juga. Mau sampai kapan kita akan seperti itu ? Lalu apa makna permintaan maaf sesungguhnya. Perlukah menunggu kejadian yang menakjubkan untuk menyadarkan kita bahwa permintaan maaf bukan hanya sekedar kalimat di lisan saja. Sungguh alangkah indahnya jika kita bisa saling memaafkan dan berubah dengan sepenuh hati.

Menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan saling memaafkan dengan tulus, sehingga di tahun depan dapat saling memaafkan untuk permasalahan yang berbeda. Bukankah hidup terlalu singkat untuk mengulang kesalahan yang sama ? Bukankah masih banyak kesalahan yang dapat kita coba untuk dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi ? Melalui tulisan ini semoga belom terlambat untuk saling menjabat tangan dan mengucapkan permohonan maaf untuk kesalahan yang pernah terjadi.

Teruntuk para sahabat yang menyebalkan namun mengasyikkan, untuk para perempuan yang pernah menghiasi indahnya hari ini, pembaca yang pernah tersinggung akan tulisan ini, dan semua pihak yang terlibat dalam kehidupan penulis yang tak dapat terucapkan satu persatu. Sekali lagi semoga belom terlambat untuk mengucapkan kata maaf, karna ini maaf yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam. Semoga kita dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi, murni dan bersih seperti yang diharapkan.

Dan untuk adik - adik yang masih SD, SMP maupun SMA. Selamat memasuki tahun ajaran baru, tetap semangat karna negeri ini masih membutuhkan generasi yang kuat dan pantang menyerah serta di hari pertama memulai pendidikan baru ini alangkah indahnya kita mulai dengan menjalin silaturahmi dengan teman hingga guru, sedangkan untuk para adik - adik yang baru menempuh pendidikan yang lebih tinggi di sekolah yang baru, yakinlah bahwa kalian gak salah tempat dan selamat belajar.

You Might Also Like

0 comments